Minggu, 20 Oktober 2019

Ilustrani (Internet)

pelalawan | Rabu, 17 April 2019 | Dibaca: 180
Sidang Dugaan Penggelapan, Anggota DPRD Pelalawan Jadi Saksi

PANGKALANKERINCI, RIDARNEWS.COM - Sidang dugaan penggelapan kepemilikan lahan pabrik kelapa sawit (PKS) Mini di Desa Langgam dengan terdakwa Anto Giovani alias Aheng, Kamis (11/4/19) lalu, digelar di Pengadilan Negeri Pelalawan dengan agande mendengarkan keterangan saksi.

Dalam sidang yang berlangsung sampai malam itu, jaksa penuntut Rahmat Hidayat SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Pelalawan menghadirkan saksi Afrizal, anggota DPRD Pelalawan.

Dalam keterangannya, Afrizal yang saat ini merupakan Caleg Golkar dapil Langgam, itu menjawab plin plan.

Karena plin plan akhirnya majelis hakim yang diketuai Nelson Angkat SH MH didampingi Endri Aswin Oetara Sugandi, SH, MH, beberapa kali memperingatkan saksi.

Berdasarkan keterangan saksi, sepatutnya kasus dalam perkara Pasal 372 KUHPidana ini tidak layak naik kepersidangan, alias diduga dipaksakan karena dalam perjanjian nama pelapor Djon Rinaldi tidak tercantum. Djon Rinaldi hanyalah agen pemasok TBS ke pabrik mini milik Aheng.

Anehnya, perkara dugaan penggelapan yang saat ini menjadikan Anto Giovanni alias Aheng sebagai terdakwa atas laporan Djon Rinaldi.

Hal ini dikuatkan dengan keterangan saksi Caleg Golkar dapil Langgam, Afrizal. Menurut Afrizal, dalam perjanjian memang tidak ada nama perlapor (Djon) sebagai pemilik saham maupun bukti bukti di Pabrik Mini tersebut.

Saat ditanya oleh penasehat hukum Aheng, Dwi Ngai Sinaga, SH, MH, siapa pemilik lahan? Saksi mengatakan bahwa lahan yang diatasnya berdiri PKS mini adalah miliknya. "Itu milik saya," jawab Afrizal.

Namun, ketika ditanya lagi surat lahan tersebut atas nama siapa?, saksi mengatakan atas nama terdakwa Aheng.

Sementara dalam penyidikan, pihak kepolisian menjerat Aheng dalam perkara dugaan penggelapan atas surat tanah. Dengan demikian, Aheng disangkakan menggelapkan surat tanah miliknya sendiri.

"Saudara saksi sudah disumpah tolong hargai sumpah saudara, apakah saudara sebagai saksi telah memberikan kesaksian yang sebenarnya, kenapa saudara mengaku itu lahan saudara sementera lahan yang saudara maksud adalah lahan atas nama Aheng," kata penasehat hukum Aheng, Dwi Ngai Sinaga, SH, MH, mengingatkan saksi agar tidak plin plan.

Kendati surat tanah atas nama Aheng, namun saksi Afrizal tetap ngotot bahwa lahan tersebut miliknya. Padahal dalam surat SKT juga ada surat penyataannya bahwa lahan tersebut tidak bersengketa. Namun, dihadapan majelis hakim, Afrizal berkeras bahwa lahan tersebut miliknya.

Saat ditanyakan kembali kepada saksi bahwa Aheng didakwa hanya berdasarkan katanya-katanya dari sejumlah saksi, bukan bukti. Suara caleg Golkar ini spontan meninggi.

"Kalau kata adat lahan tersebut adalah lahan saya, kalau suratnya betul milik Aheng," kata Afrizal dengan nada tinggi.

Sebelumnya dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdakwa Aheng diberikan modal dan kepercayaan oleh Djon Rinaldi untuk mengelola pabrik kelapa sawit mini di Desa Tambak, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Namun, dalam persidangan justru terungkap tidak satupun ada dokumen terkait pernyertaan yang klaim Djon Rinaldi (korban).

Anehnya, kendati tidak ada bukti yang valid atau otentik alias hanya katanya, perkara dugaan penggelapan ini terus naik dan sampai ke pengadilan.

Selain itu, perjanjian kerjasama antara Aheng dengan saksi Afrizal diduga dibuat setelah Aheng diperiksa penyidik Polisi di Polda Riau atas laporan Djon Rinaldi dalam perkara dugaan penggelapan sebagaimana diatur Pasal 372 KUHPidana.

"Klien kami dilaporkan di Polda Riau, katanya penipuan tapi ketika kita periksa bukti-bukti minim, coba bayangkan bukti kesepakatan dibuat setelah klien kita  dilaporkan," kata Lowyer Aheng. (Ishar D)

BERITA PILIHAN
Artikel Populer
NASIONAL
Jumat, 18 Oktober 2019
Kamis, 10 Oktober 2019
Rabu, 2 Oktober 2019
Rabu, 2 Oktober 2019
Selasa, 1 Oktober 2019

HUKRIM
Sabtu, 19 Oktober 2019
Jumat, 18 Oktober 2019
Jumat, 18 Oktober 2019
Kamis, 17 Oktober 2019
Rabu, 16 Oktober 2019