Senin, 24 September 2018

Dalam kunjungan kerja (reses) anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Provinsi Riau, Dr. Maimanah Umar, MA, menggelar pertemuan dengan para tokoh masyarakat, Forum Guru dan Dosen swasta, Selasa (15/5/18). Pertemuan itu, dilaksanakan di Aula Yayasan

politik | Selasa, 15 Mei 2018 | Dibaca: 35
Reses Maimanah Umar di Pekanbaru
Warga Riau Pemerintah Komit Bangun Destinasi Wisata

PEKANBARU, RIDARNEWS.COM - Dalam kunjungan kerja (reses) anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Provinsi Riau, Dr. Maimanah Umar, MA, menggelar pertemuan dengan para tokoh masyarakat, Forum Guru dan Dosen swasta, Selasa (15/5/18). Pertemuan itu, dilaksanakan di Aula Yayasan Masmur, Jalan KH. Dahlan, Kota Pekanbaru.

Dalam pertemuan itu, para audiens (guru dan dosen swasta) berharap Maimanah Umar memperjuangan perbaikan nasib para guru dan dosesn non pegawai negeri sipil itu. Mereka berharap, tunjangan kesejehteraan mereka bisa sejajar dengan guru dan dosen negeri.

Seperti disampaikan Ketua Forum Guru dan Dosen wasta, Sebastian Poti. "Kami berharap buk Maimanah memperjuangkan kesejahteraan kami. Kami berharap melalui Buk Maimanah pemerintah memperhatikan kesejahteraan (tunjangan) kami bisa setera dengan guru dan dosen negeri," kata Sebastian.

Kodri Kepala Sekolah SMK Masmur, berharap Maimanah Umar terus memperjuangan beasiswa siswa dan dosen. Beasiswa ini masuk dalam program Menristek melahirkan 5.000 doktor. Menurut Kodri, Maimanah bisa memperjuangkan lagi lebih dari 5.000 doktor yang diprogram Menristek RI. Dengan demikian, para dosen di Riau punya kesempatan lebih luas meraih gelar doktor.

Sementara itu, Indra dan Mirza Adrianus dari kelompok seniman menyentil pemerintah Provinsi Riau yang inkonsisten dalam mewujudkan visi misi Riau 2020. Menurut Mirza, misi Riau 2020 yang menjadikan Riau sebagai pusat budaya Melayu Dunia semakin jauh panggang dari api.

Demikian juga dengan pembangunan destinasi wisata. Para seniman dan penggiat kesenian menilai pemerintah tidak serius. Alasannya, pembangunan destinasi waisata tidak bisa dilepaskan dari budaya dan seni. Sementara, sejauh ini, para seniman dan penggiat kesenian belum mendapat perhatian yang layak dari pemerintah daerah. Untuk itu, Mirza dan Indra meminta Maimanah agar mendesak pemerintah membangun Galeri Senirupa untuk memajang karya seniman Riau.

"Kami ada 70 orang, sampai saat ini belum ada tempat (Galeri) tempat memajang karya kami. Untuk itu, kami meminta Buk Maimanah mendesak pemerintah Riau agar membangun Galeri Seni Rupa," kata Mirza.

Selain itu, audiens juga menyampaikan kondisi infrastruktur di pelosok Riau yang masih belum memadahi. Seperti dikemukakan Irfan. Menurut Irfan, kendati republik ini sudah merdeka 72 tahun, namun jalan di desa istrinya, Kuala Enok, Kabupaten Indragiri Hilir masih memprihatinkan. "Sampai saat ini masih jalan setapak," ujar Irfan.

Padahal, ungkap Irfan, Kabupaten Inhi termasuk Enok merupakan penghasil kelapa terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Namun, infrastruktur kurang baik membuat ongkos angkut hasil panen petani kelapa menjadi tinggi.

Akibatnya, para petani kelapa tak tetap miskin, karena hasil panen dipermainkan tengkulak.

"Inhil merupakan penghasil kelapa terbanyak di dunia, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan dan perhatian pemerintah terhadap harga kelapa," sindir Irfan.

Dalam reses Maimanah Umar periode kedua di bulan April-Mei ini, senator berusia 81 tahun itu didampangi staf ahilinya, Dr. Misharti, S.Ag, M.Si itu juga dihadiri Ketua pedagang Pasar Jongkok (Pasar kaget) Kota Pekanbaru,

Dosen STAI Al-Azhar, Kepala sekolah SMK Masmur, Organisasi guru guru swasta, Ketua Laskar Melayu Riau dan belasan warga lainnya.

Sebelum para audiens menyampaikan keluh kesah dan harapnnya, staf ahli Maimanah, Dr. Misharti yang juga anak kandung Maimanah menyampaikan tentang perjuangan ibunya terkait otonomi khusus, masalah bagi hasil minyak yang dinilainnya masih belum berpihak kepada Provinsi Riau selaku penghasil minyak terbesar di Indonesia.

Selaku pedagang tradisional, Firdaus berharap adanya bantuan modal usaha dari pemerintah. Untuk itu, Firdaus berharap kepada Maimanah untuk mendirikan koperasi simpan pinjam untuk modal usaha pedagang pasar Jongkok.

Menurut Firdaus, selama ini modal para anggotanya sangat tergantung dengan pinjaman rentenir. Ini membuat para pedagang Pasar Jongkok sulit berkembang. "Selama ini kami (pedagang) meminjam di bank 46, pinjam 4, bayar 6," kata Firdaus yang membuat suasana ruang jadi riuh mendengar istilah yang diucapkannya.

Menanggapi seluruh aspirasi audiens, Misharti menampung dan kemudian akan dibahas dengan daerah dan pusat. "Kalau forsinya daerah kita akan sampaikan ke Walikota dan bupati. Kalau forsi nasional dibahas ditingkat pusat," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Misharti juga menyampaikan tentang komitmennya yang akan mendirikan koperasi tanpa riba (bunga pinjaman). Untuk itu, pihaknya akan membentuk kelompok kerja. Dimana Ketua kelompok kerja harus bertanggung jawab terhadap anggotanya yang meminjam.

"Kita akan bentuk koperasi tanpa riba, pinjaman tanpa anggunan. Makanya, masing-masing Ketua kelompok kerja harus bertanggungjawab kepada anggotanya yang meminjam,"
kata Misharti yang saat ini tengah mempersiapkan diri maju sebagai calon anggota DPD RI.  (rima)



BERITA PILIHAN
Artikel Populer
NASIONAL
Rabu, 12 September 2018
Selasa, 11 September 2018
Minggu, 9 September 2018
Minggu, 9 September 2018
Minggu, 9 September 2018

HUKRIM
Senin, 24 September 2018
Minggu, 23 September 2018
Jumat, 21 September 2018
Jumat, 21 September 2018
Rabu, 19 September 2018