Rabu, 19 Desember 2018

internet

nasional | Rabu, 3 Oktober 2018 | Dibaca: 87
PJI Demokrasi Pusat Soroti Prilaku Aksi SPI Pekanbaru

JAKARTA, RIDARNEWS.COM - Beredarnya postingan video aksi yang mengatasnamakanSolidaritas Pers Indonesia (SPI) Pekanbaru pada 17 September 2018 lalu, viral di media sosial dan mengundang tanggapan berbagai kalangan.

Pasalnya, dalam video berdurasi 5 menit itu terdengar perkataan tak senonoh dari para oknum peserta aksi Solidaritas Pers Indonesia (SPI) Pekanbaru.

Aksi dari Solidaritas Pers Indonesia Pekanbaru tersebut terkait pemberian keterangan saksi di persidangan PN Pekanbaru belum lama ini, menjadi viral sehingga menjadi perhatian Ketua Umum Pusat Perkumpulan Jurnalis Indonesia Demokrasi (PP-PJID) Mayusni Tambunan.

Mayusni merasa terpanggil mengkritisi aksi tersebut.

Menurut Mayusni dalam menyampaikan pendapat didepan umum dalam era demokrasi sah-sah saja, tapi gunakanlah bahasa yang santun, dan sopan, wartawan dalam menjalankan tugas jurnalis berdasarkan naluri agar pemberitaan tersebut berimbang dan bukan kebencian seperti postingan yang diterimanya dari warga netizen.

Dalam postingan tersebut kata-kata “jorok” dan mencaci maki warga yang dijadikan saksi dipersidangan. Ditegaskan Mayusni, prilaku oknum wartawan yang mengeluarkan kata-kata “jorok” bisa juga diartikan sebagai bentuk teror.

"Jika ini dibiarkan berlanjut menjadi prseden buruk bagi para wartawan lainnya. Jika dibiarkan akan membuat para saksi takut bersaksi dipersidangan dan siapa sebenarnya dibalik aksi tersebut" ujarnya.

Menurut Mayusni prilaku oknum wartawan yang tidak terpuji dengan mengatasnamakan Solidaritas Pers tersebut tidak ditindak lanjuti oleh Kepolisian maka menjadi preseden buruk bagi wartawan lainnya apalagi ucapan “jorok” itu  disampaikan dihadapan umum dan hadapan Polisi.

"Alangkah tidak elok bilamana prilaku buruk oknum wartawan tersebut dibiarkan. Saksi bisa mempolisikan oknum wartawan berprilaku tidak terpuji itu untuk menjaga citra wartawan agar tetap terjaga dengan baik didepan publik," ujar Mayusni

Mayusni Tambunan juga menyoroti adanya pemberitaan yang berulang-ulang yang dilansir www.harianberantas.co.id tanpa melakukan konfirmasi, sehingga menbuat para pembaca bosan membaca berita yang itu-itu saja dibahas.

"Apa yang disampaikan Ketua PWI Cabang Riau Zulmansyah Sekedang sebagai saksi ahli dalam persidangan terkait pengaduan Amril Mukminin Bupati Bengkalispatut diapresiasi. Bahwa wartawan professional harus melakukan konfirmasi sehingga pemberitaan tersebut tidak berulang-ulang dan semua itu sudah tertuang dalam kode etik berdasarkan Undang-Undang Pokok Pers No.40 tahun 1999" terang Mayusni digedung Dewan Pers, Rabu, (03/10/2018)

Menurut Mayusni tindakan Amril Mukminin melaporkan PU harian Brantas yang menurut dia adanya unsur fitnah dan mengandung kebohongan jelas merupakan pelanggaran hukum. Jalan satu-satunya menempuh jalur hukum dengan melaporkan oknum wartawan tersebut tindakan Amril sudah tepat.

"Semestinya saksi yang dicaci maki oleh sekelompok oknum wartawan yang mengatasnamakan Solidaritas Pers Indonesia Pekanbaru juga harus dilaporkan, saksi tidak boleh tinggal diam, karena postingan video tersebut menjadi viral," ujarnya. (pur)














BERITA PILIHAN
Artikel Populer
NASIONAL
Jumat, 14 Desember 2018
Kamis, 13 Desember 2018
Kamis, 13 Desember 2018
Kamis, 13 Desember 2018
Rabu, 12 Desember 2018

HUKRIM
Rabu, 19 Desember 2018
Selasa, 18 Desember 2018
Senin, 17 Desember 2018
Senin, 17 Desember 2018
Kamis, 13 Desember 2018