Rabu, 18 September 2019

Cawapres nomor urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kiri) berjabat tangan dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) saat mengikuti Debat Cawapres di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad, 17 Maret 2019. Sandi sempat membuka pemaparannya dengan mengucapkan selama

nasional | Senin, 18 Maret 2019 | Dibaca: 165
Debat Cawapres 2019
Pakar Bahasa Tubuh Sebut Sandiaga Perlihatkan Perilaku Santun

JAKARTA -- Ada yang menarik perhatian publik dalam debat calon Wakil Presiden (Cawapres), Minggu, 17 Maret 2019, dimana Pasangan Cawapres Nomor Urut 02 Sandiaga Uno hormat dan mencium tangan Pasangan Cawapres Nomor Urut 01, Ma'ruf Amin.

Sandi memperlihatkan perilaku santun, termasuk ketika menghadapi pesaing yang usianya terpaut jauh darinya. Intip gaya kedua kubu dilihat dari segi bahasa tubuhnya. "Kita juga lihat, dia sebelumnya kalau ketemu Ma'ruf cium tangan," ujar pakar bahasa tubuh Monica Kumalasari pada ANTARA, Minggu 17 Maret 2019.

Pakar yang meraih lisensi dari Paul Ekman itu menjabarkan beberapa hal menarik dari sisi bahasa tubuh yang bisa dilihat dari debat kedua calon wakil presiden.

Sandiaga sejak awal terlihat lancar dalam berbicara. Satu tangan yang tidak memegang pelantang secara luwes bergerak-gerak mengilustrasikan apa yang keluar dari mulutnya.

Sementara Ma'ruf Amin dinilai terlihat gugup pada awal debat karena tangannya hanya diam memegang pelantang. Tapi kegugupan itu tidak berlangsung lama, Ma'ruf terlihat santai dan lebih cair meski secara umum bahasa tubuhnya memang tidak mencolok.

Ada satu momen ketika Ma'ruf ingin terus bicara meski waktunya sudah habis saat menanggapi Sandiaga Uno.

Kepada moderator, dia memastikan apakah masih ada sisa waktu untuk mengutarakan argumennya. Sikap ini berkebalikan dengan apa yang terjadi di debat perdana di mana Ma'ruf justru irit bicara, membiarkan Joko Widodo mendominasi debat.

"Itu pertanda dia persiapan juga banyak, jadi banyak yang mau dibicarakan, beda banget sama yang sebelumnya," ujar Monica.

Sebaliknya, ada kalanya Sandiaga justru terlihat mengulur-ulur waktu dengan menyebutkan hal-hal di luar debat, seperti ucapan dukacita atas terorisme di Selandia Baru dan banjir di Papua. "Padahal dalam debat ada keterbatasan waktu."

Stunting

Topik stunting cukup hangat diperbincangkan oleh Ma'ruf dan Sandi. Saat beradu argumen soal topik kesehatan ini, ada ketidaksepahaman antara pengertian stunting.

Monica berpendapat ekspresi Ma'ruf terlihat sedih dengan ujung bibir yang tertarik ke arah bawah saat mereka tidak sepaham mengenai stunting.

Metafora

Monica menilai Sandi banyak memulai sesuatu dengan metafora. Dia beberapa kali menyebut nama Ibu Lis, ananda Salsabila dari Pamekasan, juga pertemuan Bung Karno dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat pada 1961. "Kenapa pakai metafora? Gaya bahasa metafora paling gampang (masuk ke) bawah sadar pemirsa."

"Sementara Ma'ruf justru kalau jawab beberapa kali dengan 'kita harus bersyukur'."

Teori Saya

Sandi banyak menyebutkan pengalaman-pengalamannya dalam debat. Mulai dari pengalamannya berolahraga 22 menit, cerita ketika dia merasakan jadi pengangguran, cerita istrinya melahirkan si bungsu, juga tentang ibu, paman dan kakaknya dari latar belakang pendidik saat bicara soal pendidikan.

"Sandi banyak pakai 'Me Theory'. Selalu pakai teori dia," katanya. "Apa yang dia alami dijadikan generalisasi."

"Di bawah"

Berkali-kali Sandi menyebutkan kalimat "Di bawah Prabowo - Sandi" yang mencerminkan optimisme kemenangan pada pemilu mendatang.

Namun, dilihat dari gaya bahasa, pemilihan kata "di bawah" menyiratkan rakyat berada di bawah kekuasaan. Kesan itu bakal berbeda bila Sandi memilih kata lain, misalnya "Bersama Prabowo - Sandi". (Tempo.co)

BERITA PILIHAN
Artikel Populer
NASIONAL
Selasa, 17 September 2019
Sabtu, 14 September 2019
Jumat, 13 September 2019
Jumat, 13 September 2019
Minggu, 8 September 2019

HUKRIM
Sabtu, 14 September 2019
Jumat, 13 September 2019
Jumat, 13 September 2019
Jumat, 13 September 2019
Rabu, 11 September 2019