Cuma Butuh 2 Bahan Saja, Begini Cara Pengolahan Mie Sagu
Editor : bella | Penulis: Juna

meranti | 06 Desember 2019 | Dilihat : 57

Mie sagu menjadi salahsatu panganan khas dari Kabupaten Kepulauan Meranti. Proses pengolahannya pun tidak terlalu sulit, hanya membutuhkan dua bahan untuk membuat mie tersebut.

MERANTI, RIDARNEWS.COM - Mie sagu menjadi salahsatu panganan khas dari Kabupaten Kepulauan Meranti. Proses pengolahannya pun tidak terlalu sulit, hanya membutuhkan dua bahan untuk membuat mie tersebut.

Tidak hanya lezat, mie sagu juga memiliki kandungan gizi yang baik untuk dikonsumsi. Bahkan, pangan ini menjadi makanan pengganti nasi bagi penderita Diabetes.

Ibu Salmi, salahsatu pemilik usaha mie sagu mengatakan, untuk membuatnya, dibutuhkan hanya dua bahan dasar saja. Yakni air dan tepung sagu kering kualitas terbaik agar mie sagu yang dihasilkan bisa tahan lama dan terhindar dari jamur. Bahan utama itu bisa didapatkan disalahsatu toko di Kota Selatpanjang.

"Tepatnya di Jalan Sungai Juling. Disana tepung sagu dijual dengan harga Rp 7200 perkilo. Itu sudah bisa dikategorikan sebagai sagu dengan kualitas terbaik," ujarnya, Jum'at, (6/12/2019).

Proses pembuatannya dimulai dari tepung sagu kering yang dibasahkan dengan air. Hal itu gunanya untuk membuat tepung agak sedikit lembab.

"Jangan terlalu basah atau terlalu lembab, nanti susah untuk dilakukan proses selanjutnya," tambah Salmi.

Kemudian, tepung yang sudah dibasahkan akan digongseng atau disangrai. Untuk mengetahui tepung tersebut sudah benar-benar matang, bisa dirasakan suhu panasnya. Diusahakan agar tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin dalam proses tersebut.

Tepung yang sudah melewati proses itu, kemudian ditambahkan air secukupnya dan tahap pengadonan pun dilakukan. Biasanya, dalam tahap ini, sebagian dari para pembuat mi sagu menggunakan mesin agar menghasilkan adonan yang lunak untuk digiling.

"Ada juga yang manual. Hanya saja membutuhkan tenaga ekstra untuk mengadon tepung itu," jelasnya lagi.

Untuk diketahui, adonan tersebut harus digiling dengan beralaskan plastik. Dalam proses ini, dibutuhkan keahlian. Sebab, adonan yang digiling harus benar-benar rapi. Ketebalannya pun harus pas.

"Jangan terlalu tebal dan jangan juga terlalu tipis. Ketebalan adonannya sekitar 0,65 cm," akunya.

Setelah itu, adonan siap untuk dikukus. Waktu yang dibutuhkan untuk proses ini sekitar 5 menit. Selanjutnya, proses penjemuran pun dilakukan. Lamanya sekitar 6 jam. Supaya mudah untuk dicetak, penjemuran tidak boleh terlalu lama karena akan membuat tekstur mi terlalu keras. Dalam tahap ini cukup penting, sebab berpengaruh terhadap kualitas mi.

"Adonan yang sudah digiling itu masing-masing terdiri dari enam keping untuk dikukus. Tujuannya agar lebih mempercepat proses pengukusan," terang Salmi.

Tahap akhir, mi siap dicetak. Pencetakan biasanya menggunakan ampia (mesin pencetak atau mesin gilingan mie).

Saat dikonfirmasi beberapa waktu yang lalu, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DisdagperinkopUKM) Kepulauan Meranti, Ade Suhartian mengatakan, sejak dulu, mie sagu memang menjadi kuliner khas di kabupaten termuda di Riau ini. Tidak banyak juga masyarakat yang mampu membuatnya. Sebab, setiap tahap harus dilakukan secara detail dan membutuhkan keahlian khusus.

"Mie sagu memang sudah populer sejak dulu. Apalagi, saat ini sudah banyak yang menjualnya. Nilai jualnya juga cukup tinggi, sekitar 9 sampai 10 ribu perkilo," ujarnya.

Dilanjutkannya lagi, mie sagu juga sudah menjadi oleh-oleh khas Meranti. Bahkan, tidak sedikit dari masyarakat diluar daerah mengakui kualitas mie sagu Meranti adalah yang terbaik. (juna)

Artikel Kanan
Artikel Kanan